Ilmu HRD

Blog berbagi ilmu untuk praktisi HR

Breaking

Cari di Blog Ini

Showing posts with label OD. Show all posts
Showing posts with label OD. Show all posts
Sunday, September 21, 2025

Meet & Greet #1 ILMU HRD Member

 



Jaringan Profesional: Kunci Sukses HRD di Era Dinamis

Dunia ketenagakerjaan di Indonesia terus bergerak cepat. Peraturan pemerintah yang dinamis, tren industri yang berubah, dan tantangan yang tak terduga menuntut para profesional Human Resources Development (HRD) untuk selalu siap dan beradaptasi. Di tengah semua ini, bersosialisasi dan membangun jaringan dengan sesama profesional HRD menjadi lebih dari sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan.

Mengapa Jaringan Profesional Penting bagi HRD?

  • Pembaruan Informasi: Regulasi ketenagakerjaan, seperti Undang-Undang Cipta Kerja dan peraturan turunannya, sering kali mengalami perubahan. Berjejaring memungkinkan Anda mendapatkan informasi terkini dan pandangan dari berbagai sudut pandang, membantu Anda menginterpretasi dan mengaplikasikan aturan tersebut dengan benar di perusahaan.

  • Mendapatkan Beragam Perspektif: Setiap perusahaan memiliki kebijakan dan tantangan yang unik. Dengan berdiskusi bersama profesional dari industri lain, Anda bisa menemukan solusi kreatif untuk masalah yang dihadapi, baik itu dalam hal rekrutmen, kompensasi, manajemen kinerja, atau hubungan industrial.

  • Belajar dari Pengalaman Orang Lain: Pengalaman adalah guru terbaik. Saat menghadapi kasus sulit, seperti pemutusan hubungan kerja (PHK) atau mediasi konflik, Anda tidak perlu memulai dari nol. Anda bisa belajar dari pengalaman rekan HRD lain yang mungkin sudah pernah menghadapi situasi serupa.

  • Mengembangkan Diri: Berjejaring membuka pintu untuk kolaborasi, mentoring, dan peluang baru. Ini bisa meningkatkan keterampilan profesional Anda dan bahkan membuka jalan untuk pertumbuhan karier.



Meet & Greet ILMU HRD

Dengan alasan tersebut di atas, maka Komunitas ILMU HRD merasa sangat perlu untuk mengadakan suatu event pertemuan informal dengan tujuan saling mengenal antar anggota komunitas.
Hari Jum'at, 19 September 2025 dengan inisiasi dari beberapa anggota, kami mengadakan acara Meet & Greet Batch #1 yang diadakan di Titik Temu Cafe'  Sarinah, Jakarta Pusat.
Meskipun seperti "Tahu Bulat" (baca: dadakan), acara ini berjalan dengan sukses dengan dihadiri sekitar 13 orang antara lain:
  1.  Taufik Hidayat
  2. Usman Yusup
  3. Imam Jatmiko
  4. Heny Maskufah
  5. Sumitro
  6. Novie Mailani
  7. Riva Kurniadi
  8. Ade R
  9. Irzandi Lumaela
  10. Joseph Langgeng
  11. AgustinaR. Parapat
  12. Doni Partogi H. Sirait
  13. Sari Sianturi
Selain berkenalan dan ngobrol santai, pertemuan tersebut menghasilkan beberapa masukan, saran, dan juga kesan dari semua anggota yang hadir. Saran dan masukan yang disampaikan antara lain;
  1. Kegiatan pertemuan antar anggota agar diadakan secara rutin (paling tidak 3 bulan sekali).
  2. Perlunya pendataan semua anggota komunitas, untuk memetakan secara lokasi, posisi/jabatan, serta bidang usaha dari masing-masing perusahaan.
  3. Perlu dibentuk komite kecil yang membantu "Community Chairman" dalam merespon setiap pertanyaan anggota dalam komunitas.

Tips Mendapatkan Sharing Pengalaman dari Rekan HRD

Membangun jaringan adalah satu hal, tapi bagaimana cara efektif untuk mendapatkan dan memberikan manfaat dari jaringan tersebut? Berikut adalah beberapa tips yang bisa Anda terapkan:

1. Aktif dalam Komunitas Profesional:

  • Bergabunglah dengan Asosiasi HRD: Ikut serta dalam forum resmi atau komunitas HRD, baik yang bersifat nasional maupun regional. Asosiasi seperti Forum Komunikasi HRD (FKHRD) atau komunitas HRD di LinkedIn sering mengadakan pertemuan, webinar, atau diskusi yang sangat bermanfaat.

  • Hadiri Seminar dan Workshop: Acara-acara ini tidak hanya menyediakan pengetahuan baru, tetapi juga menjadi tempat terbaik untuk bertemu langsung dengan sesama profesional. Jangan ragu untuk bertukar kartu nama atau meminta kontak LinkedIn.

2. Manfaatkan Platform Digital:

  • Grup Diskusi Online: Gabunglah dengan grup-grup WhatsApp, Telegram, atau Facebook khusus HRD. Di sana, Anda bisa bertanya, berbagi informasi, dan berdiskusi secara instan.

  • LinkedIn: Gunakan LinkedIn secara maksimal. Ikuti profesional HRD ternama, berinteraksi dengan postingan mereka, dan jangan malu untuk mengirimkan permintaan koneksi pribadi.

3. Mulai dengan Niat Memberi, Bukan Menerima:

  • Tawarkan Bantuan: Sebelum meminta bantuan, tawarkan terlebih dahulu apa yang bisa Anda berikan. Misalnya, bagikan pengalaman Anda dalam menyusun prosedur operasional standar (SOP) atau berikan masukan saat ada rekan yang bertanya di grup. Niat baik ini akan membangun kepercayaan.

  • Ajukan Pertanyaan yang Tepat: Saat bertanya, hindari pertanyaan yang terlalu umum seperti "Bagaimana cara membuat HRD menjadi strategis?" Sebaliknya, buat pertanyaan yang lebih spesifik, misalnya, "Apakah ada yang pernah mengimplementasikan sistem Performance Management berbasis OKR di perusahaannya? Bisa sharing tantangannya?"

4. Bangun Hubungan yang Autentik:

  • Jalin Komunikasi Reguler: Setelah mendapatkan kontak, jangan hanya menyimpannya. Sesekali, sapa mereka atau bagikan artikel yang relevan. Hubungan yang baik tidak dibangun dalam semalam, butuh waktu dan niat tulus.

  • Ajak Diskusi Personal: Jika ada rekan yang memiliki pengalaman menarik, ajaklah mereka berdiskusi empat mata, bisa melalui panggilan video atau kopi darat. Diskusi personal sering kali lebih mendalam dan terbuka.

Membangun jaringan profesional bagi HRD bukanlah sekadar tren, melainkan sebuah investasi jangka panjang. Dengan saling mendukung, berbagi, dan belajar, kita bisa menghadapi dinamika ketenagakerjaan Indonesia dengan lebih baik dan menjadi profesional yang lebih andal.

Monday, June 05, 2023

Employee Experience (EX)

Halo Sahabat Praktisi HR,

Artikel kali ini saya sadur dari tulisan seorang praktisi, penulis, pemateri, sekaligus mentor HR.
Simak tulisannya berikut ini; 


"EMPLOYEE EXPERIENCE"

Gartner dan Harvard Business Review mendefinisikannya sebagai "bagaimana karyawan menginternalisasi dan menginterpretasikan interaksi yang mereka lakukan dengan dan di dalam organisasi mereka dan konteks yang memengaruhi interaksi tersebut".

Jacob Morgan, penulis buku "The Employee Experience Advantage", menggambarkan employee experience sebagai keseluruhan pengalaman yang dialami oleh karyawan sepanjang siklus kerja mereka, mulai dari perekrutan hingga pensiun.

Josh Bersin menyatakan bahwa employee experience melibatkan perhatian pada kebutuhan, harapan, dan preferensi karyawan serta memastikan bahwa lingkungan kerja dan budaya organisasi mendukung pertumbuhan, pengembangan, dan kesejahteraan mereka. Menurut Bersin, organisasi yang berfokus pada employee experience menciptakan budaya inklusif yang mempromosikan kolaborasi, inovasi, dan kepuasan karyawan.


Sumber: www.elearningindustry.com


EX Evolution

Dalam bukunya berjudul The EX Advantage, Jacob morgan menyampaikan ada 4 tahap evolusi dala EX:

  1. Utility - Tahap tentang "apa yang karyawan butuhkan untuk bekerja"
  2. Productivity - Tahap tentang "apa yang dibutuhkan karyawan untuk bekerja lebih baik dan lebih cepat".
  3. Engagement - Tahap tentang "bagaimana membuat karyawan bahagia sehingga mereka berkinerja lebih baik"
  4. Experience - Tahap tentang "bagaimana menciptakan perusahaan di mana karyawan ingin hadir & menunjukkan dirinya (kinerjanya).

Morgan menyimpulkan bahwa EX adalah titik bertemunya antara disain yang disiapkan organisasi/perusahaan untuk kepuasan, kebutuhan, dan keinginan karyawan dengan apa yang diharapkan, dibutuhkan dan diinginkan oleh karyawan.  


Dimensi dan Instrumen Pengukuran EX

Jacob Morgan masih dalam buku yang sama, dimana dalam buku tersebut berisi penelitiannya tentang EX, dia mengembangkan tools/instrumen yaitu Employee Experience Index pertama di dunia yang menilai dan memeringkat 252 organisasi global dalam 17 variabel yang dikelompokkan ke dalam 3 dimensi/lingkungan, yaitu : culture (budaya), technology (tekhnologi), dan physical space.


3 (Tiga) dimensi tersebut digunakan untuk menilai dan memeringkatkan level of EX perusahaan2 global dan hasilnya dapat dilihat dalam link berikut ini https://ce6.9dd.myftpupload.com/employee-experience-index/


3 dimensi/lingkungan, yaitu : culture (budaya), technology (tekhnologi), dan physical space kemudian dibuat instumennya dalam 17 item pernyataan tentang EX (3 item pada dimensi Tekhnology, 4 item pada dimensi Psysichal space, dan 10 item pada dimensi Culture).


Penulis Asli:

Iman N Bajuasijadji, SH., MM., CIRM, CODM., CHRM, CBSCP., CG





Sunday, January 23, 2022

46 Sampel Job Description

Job description merupakan petunjuk dan gambaran jelas sebuah pekerjaan yang dihasilkan dari sebuah analisa terhadap suatu pekerjaan atau jabatan. Job description ini juga dapat dihasilkan dari sebuah survey atau wawancara dari individu-individu yang memegang atau melaksanakan suatu tanggung jawab pekerjaan.

Dalam job description, menjelaskan tentang tugas, peran, serta wewenang setiap orang dalam melaksanakan kewajibannya sebagai pekerja, sehingga setiap tugasnya dapat terukur serta dapat dipertanggung jawabkan dalam organisasi perusahaan.

Selain itu Job description berperan penting dalam proses evaluasi jabatan yang berfungsi dalam menentukan struktur dan skala upah sebagaimana yang diamanatkan dalam Permenaker No.1 Tahun 2017 dan juga dalam UUCK dan PP No.36 Tahun 2021.

Sumber: smartpresence.id


Berikut ini sample Job Description  yang secara umum digunakan oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia.

ORDER 46 SAMPLE JOBDESC

Saturday, July 11, 2020

WHAT YOU HAVE TO DO, IF YOU ARE A MANAGER (for the first time in your life)?

(Apa yang harus anda lakukan, saat anda pertama kali jadi manager?)

Reza hari itu agak murung. Kelihatan ada tanda tanda letih di mentalnya. Padahal mestinya dia senang. 3 bulan yang lalu dia dipromosikan menjadi Head of Risk Management di sebuah bank swasta.  Sebelumnya Reza adalah seorang Senior Risk Management Officer dan sudah beberapa belas tahun di situ. Levelnya sudah tinggi tetapi dia menjadi expert tanpa anak buah.  Dia sebenarnya enjoy role nya yang dulu, tapi pada saat bossnya cabut ke perusahaan lain, dan CEO nya menawarkan jabatan itu ke dia, dia tertarik juga. Akhirnya dia dipromosikan ke jabatan itu, dan tentunya dengan tambahan gaji yang menarik. Mulailah dia bekerja sebagai "boss" dengan anak buah sekitar 20 orang.  Ternyata ......


Tiga bulan kemudian Reza menghadap CEO nya, dia capek menjadi boss, hampir tiap hari stress dan tiap malam gak bisa tidur. Susah juga jadi boss. Dia ingin balik menjadi Senior Officer tanpa anak buah. Bahkan dia rela gajinya balik lagi ke gaji yang lama. Seorang teman menyarankan Reza untuk menemui saya. Dan hari itu kami makan di sebuah mall di Jakarta. 

Anyway, Reza menceritakan betapa frustasinya dia memimpin 20 anak buahnya. Padahal dia sebelumnya enjoy bergelut setiap hari dengan proses dan angka-angka.  Dan ternyata anak buah yang 20 itu jauh lebih mudah diurus daripada proses dan angka.

Ya iyalah, angka gak bisa nangis, angka gak bisa marah marah, dan angka dibentak diem aja.
Reza harus mengerti bahwa fokusnya kali ini sudah berubah, he is not anymore an individual performer, he is a leader. Kalau sebelumnya dia fokus ke manage performance sendiri, sekarang fokusnya sudah berubah menjadi me manage performance teamnya (yang 20 orang) yang tentunya jauh lebih rumit.

Banyak sekali orang yang mengalami hal ini, menjadi karyawan yang terbaik kemudian dipromosikan menjadi team leader dan gak siap. Bossnya juga agak "aneh" juga nih, karyawan dengan performance terbaik malah dipromosi? Lha memangnya, pemain bola yang hebat bisa menjadi pelatih yang bagus? Belum tentu Om! Memang ada, tapi kan tidak semua. Mardonna dulu pemain bola hebat, tapi waktu jadi pelatih sepak bola malah hancur. Ya iyalah, pemain bola harus jago nendang bola. Pelatih harus jago bikin strategy, membuat tim yang kompak, memilih pemain yang paling cocok dan mereward pemain berdasarkan performance nya. Beda kan?

Yang payah kadang kadang juga yang mempromosikan. Waktu Reza disuruh ngerjain proses dengan angka angka rumit, sebelumnya ditraining dulu. Juga ada teman saya, sebut saja namanya Paijo. Waktu Paijo mau disuruh pasang pasang kabel , sebagai insinyur disuruh training. Lha kalau ada yang dipromosi jadi manager kok gak ditraining dulu? Memangnya ngurus manusia lebih gampang daripada ngurus kabel? Padahal kalau ngurus computer system, ada certificate nya. Dan tanpa ada certificate engineer gak boleh ngurusin computer. Kenapa sembarang orang boleh menjadi manager? Kenapa kita tidak memerlukan certificate untuk menjadi team manager? Apakah kita menghargai computer lebih berharga daripada manusia? Jangan-jangan ....

Well, intinya adalah anda memerlukan kebutuhan khusus untuk menjadi people manager yang baik. We need a special skills to be a good people manager. 

Tetapi terutama ini masalah "mind set", bukan hanya skills. Being a manager it is not about you anymore ... Jadi ini waktunya menurunkan ego anda. Analoginya adalah pemain bola, seperti Ronaldo, dia akan berusaha bermain sebaik mungkin dan dia harus mencetak goal sebanyak mungkin.It is about him ! It is about his performance ! Fans fans nya akan mengelu-elukan dia pada saat dia mencetak goal dan memenangkan pertandingan.

Sementara seorang pelatih gak ada yang punya fans club. Seorang pelatih tidak boleh memikirkan performance dirinya sendiri , dia hanya akan menjadi hebat kalau timnya selalu memenangkan pertandingan.

Kadang kadang saya mendengarkan feedback,"Dia sebenarnya bagus dan pinter. Sayangnya timnya gak bagus."That's bullshit". A leader is only as good as the team that he leads. If the team is bad , it means the leader is bad !

Di situlah seorang leader harus berani menurunkan egonya, kemudian lebih memikirkan performance bisnis dan performance teamnya di atas performance nya sendiri!

Jadi bagaimana caranya mengubah mindset dari seorang individual performer ke seorang team leader?
Kita coba terapkan tips tips di bawah ini :

A. CHANGE THE FOCUS
Every day, instead of thinking of your self, start to think of your team first.
Objective Apa yang harus mereka capai? 
Apakah mereka mempunyai competence yang cukup untuk role mereka?
Apakah challenge yang mereka hadapi?
Apa yang bisa anda bantu agar mereka bisa perform lebih baik lagi?

B. LEARN HOW To BECOME A MANAGER
Ada beberapa buku tentang management dan leadership yang bisa anda pelajari. Anda juga bisa belajar dari teman anda yang sudah pernah menjadi manager. 
Dengan teknologi dan Internet anda juga bisa belajar dari banyak sumber di sana.
Learn the basic sebelum anda mempraktekannya.

C. DON'T TRY TO BE LIKED
Next, salah satu hal yang paling penting yang anda harus mengerti sebagai seorang leader adalah "Jangan berusaha untuk disukai semua orang!"
Sebagai leader, tugas anda adalah "TO DO THE RIGHT THINGs!"
Kadang kadang dengan melakukan "the right thing" itu akan membuat anda tidak disukai , menjadi anda kurang popular, but so be it. You still have to do the right things for the business.

Begitu anda ingin selalu disukai oleh semua orang ... YOU WILL FAIL!

Ingat ini pekerjaan , bukan FaceBook. Di Facebook anda sibuk menghitung berapa yang like ke anda. Di pekerjaan anda sibuk meningkatkan performance team anda.
LEADERSHIP is different than LIKERSHIT.

D. LISTEN TO YOUR TEAM
Next, remember it is about your team performance. It is about how you can help your team achieveing a better performance. Jadi yang paling penting adalah mendengarkan mereka, menyediakan waktu untuk mereka, berusaha mengerti mereka dan berusaha membantu mereka.
It start from listening, understanding, helping and developing them!

E. BECOME A ROLE-MODEL
You are the boss, be a role model!
And harus menjadi contoh yang baik bagi anak anak buah anda. Dari segi integrity, disiplin, communication, hardwork, extra effort and performance.
Monkey see, monkey do!
Your people will see and copy what you do!

F. MANAGE-UP
Selain memanage anak buah anda, anda juga harus memanage boss anda sendiri.
Ingat boss anda mempromosikan anda ke jabatan tersebut karena ada objectjve yang ingin dicapai.
Yakinkan anda bisa mencapai objective tersebut.
Intinya boss anda punya tim yang lebih besar (di mana anda menjadi bagian dari itu), dan anda harus memastikan bahwa tim anda membantu tim besar itu untuk mencapai objective nya!
Hanya dengan cara itu anda akan mendapatkan reward and recognition from your boss!

G. GET A MENTOR
Last but not least, cari mentor. Orang yang lebih senior dan sudah lebih lama menjadi team leader. Orang yang bisa mengerti potensi anda dan bisa membantu anda menyelesaikan challenge yang anda hadapi. Orang yang akan menanyakan pertanyaan yang tepat, dan membuat anda berfikir sehingga anda akan mampu memecahkan masalah anda sendiri.
Remember, this is what you can do to move from an individual contributor to be a real team leader ....

A) CHANGE THE FOCUS
B) LEARN HOW To BECOME A MANAGER
C) DON'T TRY TO BE LIKED
D) LISTEN TO YOUR TEAM
E) BECOME A ROLE-MODEL
F) MANAGE-UP
G) GET A MENTOR

Salam Hangat
Pambudi Sunarsihanto (Penulis)

Thursday, November 15, 2018

DREAMS & JOBS

Artikel kali ini merupakan tulisan dari teman saya, seorang profesional di bidang Organization & People Development. Saat ini masih aktif sebagai praktisi HR O&P Dev dan bertugas di LNG daerah Papua Barat.

--------------------<>-------------------

Pernahkah Anda mengalami jika pekerjaan yang pertama kali Anda dapat sebetulnya tidak anda sukai? namun Anda tetap harus mengambilnya karena banyak faktor (Kalau sy faktornya karna BU "Butuh Uang"). Jika pernah mengalami atau Anda pernah galau karena merasa mendapat pekerjaan yang kurang cocok mungkin tulisan berikut bisa jadi masukan buat Anda.

Sumber : http://edgeworthconsulting.com


Jaman dulu kala, waktu saya masih kecil almarhum Bapak Saya selalu mendoktrin saya untuk bisa ambil Sekolah Tekhnik, biar bisa kuliahnya di ITB (spesifik nyebutin kampus),  dan bisa kerja di pertambangan (Kalimantan) biar duitnya banyak. Doktrin tersebut berdasarkan informasi yang beliau ketahui saat itu. Alhasil, karena pengaruh orang tua, mulai terbangunlah cita-cita waktu SD yaitu kuliah di ITB & kerja dictambang jika sudah besar nanti. (Seinget saya waktu sebelum itu cita-cita sy jadi Astronot, lupa kelas berapa jadi berubah).

Singkat cerita (jika diceritakan detail bakal jadi buku) Saya tidak jadi kuliah di kampus impian  bapak (karena tidak pernah daftar juga...hehe) dan masuk di kampus pilihan pertama waktu SPMB, sesuai yg Saya pilih plus jurusanya Manajemen (IPS), tidak relevan dengan bidang yg sangat Saya kuasai dari SD hingga SMA dimana nilai Saya lebih bagus di jutusan IPA.

Sesuai target sebelum kuliah, Saya mendapatkan pekerjaan di akhir Semester 1 (awal kuliah) Sebagai tim fasilitator training suatu training center di Kota Bandung yang sangat terkenal pada saat itu karena pemiliknya merupakan tokoh Nasional.






Waktu masih pendidikan awalnya sangat senang, karena dapat kerja (bakal punya duit sendiri), ditambah lagisemakin "PEDE" karena ternyata Saya yang termuda di angkatan penerimaan kerja saat itu, satu-satunya yang anak Semester I sedangkan yang lain sudah lulus kuliah dan mahasiswa tingkat akhir. (Angkatan saya waktu itu menerima sekitar 15an orang) karena job trainingnya sedang banyak, ribuan orang yang datang ke tempat itu untuk mengikuti program training setiap bulan, belum lagi program inhouse trainingnya.

Tahu kah anda? "Real Challenge" terjadi ketika "first time in charge" sebagai training fasilitator, harus memfasilitasi sekitar 300 anak-anak SMA selama 3 hari. Ternyata memperkenalkan diri di depan anak sebanyak itu Saya keluar keringat dingin. Rata-rata usia mereka hanya 2 sampai 3 tahun di bawah Saya. Oh My God, Saya baru menyadari ternyata Saya introvert. Boro-boro bicara panjang lebar dam membawakan materi, kenalan saja Saya gugup dan ingin kabur saja. Apalagi banyak peserta cewek cantik lagi, bahkan ada salah satu peserta cewek malah "menggoda" Saya dan sempat berkenalan lewat friendster (media sosial yang sedang "hits" saat itu). Ini benar-benar nyata, karena mungkin tampang Saya yang terlihat beda tipis dengan mereka. (hehe....)

Jujur, waktu itu saya dihadapkan dengan 2 pilihan.

  1. This my first and last project, (Saya merasa pekerjaan ini tidak cocok buat saya, tapi Saya tetap harus bertanggung jawab, "finish it until the next day 3 atau cari orang lain yang mau menggantikan posisi Saya)
  2. This is opportunity, waktunya mendongkrak sesuatu yang tadinya tidak bisa/tidak berani jadi bisa di kemudian hari, toh tidak ada ruginya jika kita salah ngomong di depan orang, kita dibayar pula, ditambah kita tidak kenal pesertanya juga, habis pelatihan mereka pulang ke Jakarta dan tidak akan ketemu lagi..

Akhirnya Saya mengambil pilihan ke-2, terus belajar dari senior dan mulai membiasakan diri.

Tidak terasa itu masa-masa itu sudah 13 tahun terlewati? Sekarang Saya malah bersyukur sudah mendapat kesempatan itu, bahkan rizqi Saya sampai saat ini, dari mulai jalan-jalan gratis dari ujung Pulau Sumatera sampai ke Papua, memenuhi kebutuhan keluarga termasuk bisa membeli rumah dan kendaraan merupakan hasil dari profesi saya di bidang ini.

Dan cita-cita Bapak jaman Saya kecil juga Alloh realisasikan melalui bidang ini, "Yes" mimpi untuk kerja di pertambangan (coal mining), dan di Oil&Gas Industri juga bisa tercapai, yang membedakan hanya posisinya saja. Saya bukan sabagai engineer tapi sebagai HRD. Alhamdulillah malah tidak merasakan kepanasan karena lebih banyak di kantor.

Alloh memang Maha baik, tujuannya tercapai hanya caranya saja yang sedikit berbeda..... By the way, dari awalnya belasan tahun lalu saya tidak merasa cocok di bidang ini (HR, OD&people development), sekarang saya malah bangga bekerja di bidang ini.

What about you?

Masih merasa pekerjaan anda  sekarang tidak cocok?

Jika masih merasa tidak cocok, "positif thingking" saja dan berdo'alah, Alloh pasti akan memberikan jalan yang tidak disangka-sangka untuk mencapai semua mimpi kita. Yang penting adalah ikhtiar dan berdo'a.


Bintuni, 3 Mei 2018

Saiful Anwar Al-fatih

Entri yang Diunggulkan

Omnibus Law Ketenagakerjaan dan Urgensinya

Bogor, 31-01-2020. Sudah lebih sekitar tiga bulan terakhir ini, kita sering kali mendengar istilah "Omnibus Law" bahkan hingga sa...