Ilmu HRD

Blog berbagi ilmu untuk praktisi HR

Breaking

Cari di Blog Ini

Showing posts with label Mindset. Show all posts
Showing posts with label Mindset. Show all posts
Tuesday, December 09, 2025

⭐ Day 50 – Bikin Kue Gagal, Bikin Proyek Hancur!



Balikpapan Journey | The Wrong Composition: How Miscommunication Ruins Both Cakes and Construction


Pagi libur ini kami sepakat untuk sejenak melupakan hiruk pikuk site office.
Tidak ada rapat, tidak ada work order, tidak ada deadline.
Hanya satu kegiatan sederhana yang jarang dilakukan bapak-bapak:

Memasak .…….. Kue. Iya kue.

Tugas dibagi rapi—ada yang bertugas membeli bahan, ada yang mencari resep, dan ada yang kebagian memasak.

Semua berjalan mulus… sampai masalah datang.

Tiba-tiba si pembeli bahan dan si pencari resep dipanggil ke kantor karena ada incident kecil di lapangan.
Tinggallah si juru masak sendirian, berhadapan dengan bahan kue tanpa label, tanpa catatan, dan selembar kertas berjudul “10 Resep Membuat Kue” tanpa satu pun yang ditandai spidol.

Lalu muncullah pertanyaan paling penting:

Kalau kamu jadi si tukang masak, apa yang akan kamu lakukan?

a. Masak saja sesuai salah satu resep yang ada
b. Diskusi online dengan pembeli bahan & penyedia resep sebelum lanjut
c. Tidak melakukan apa-apa sampai semua PIC kembali

Dan kejadian ini—secara tidak sengaja—jadi analogi yang sangat pas untuk dunia konstruksi.

Dalam pekerjaan lapangan, instruksi yang tidak jelas bisa membuat eksekusi melenceng total.

Yang harusnya Repair Welding, malah dikerjakan Full Weld.
Yang harusnya bikin kue talam, malah jadi kue lapis.
Semua karena komponennya mirip, tapi perintahnya nggak jelas — dan komposisi bahannya salah.

Koordinasi itu kunci.
Karena di proyek, salah langkah kecil bisa berujung pekerjaan ulang… dan salah bahan kue akan membuat kesel staf dapur.

Day 50 ini terinspirasi oleh gambar dan cerita di baliknya.
Terima kasih buat @MayaMasyitah

hashtagConstructionDiary hashtagProjectLife hashtagCoordinationMatters hashtagCommunicationFail hashtagTBMLife hashtagEngineeringStory hashtagSiteLessons hashtagWorkplaceAnalogy hashtagFastTrackProject
Sunday, November 30, 2025

Understanding Backlog: Definition, Context, and Practical Application in Project Work

 


1. Definisi Backlog dalam Dunia Proyek

Dalam manajemen proyek, backlog adalah daftar pekerjaan yang telah direncanakan tetapi belum dikerjakan atau belum diselesaikan. Backlog dapat muncul karena beberapa faktor, antara lain:

  1. Keterbatasan sumber daya

  2. Prioritas tugas yang berubah

  3. Proses administrasi yang panjang

  4. Beban kerja yang meningkat

  5. Pergantian personel

Keberadaan backlog tidak selalu negatif; backlog adalah indikator yang membantu tim melihat beban kerja aktual dibandingkan kapasitas tim.


2. Backlog dalam Proses Pelaporan Proyek

Pada beberapa proyek konstruksi atau EPC, proses pelaporan progres fisik biasanya mengikuti mekanisme H+3, yakni data pekerjaan atau dokumen progres baru dapat diakui setelah melalui tahapan routing sign dan verifikasi dokumen.

Dalam konteks tersebut:

  1. Jika seluruh pekerjaan dapat diproses tepat waktu sesuai standar H+3,

  2. Dan tidak ada penundaan yang melampaui 3 hari,

maka kondisi tersebut dapat dikategorikan sebagai zero backlog secara operasional.

Dengan kata lain, zero backlog = seluruh dokumen progres telah diproses sesuai siklus standar tanpa keterlambatan tambahan.


3. Manajemen Backlog saat Pengalihan Tugas

Ketika seorang pekerja memasuki proyek yang sedang berjalan, sering kali terdapat backlog yang sudah menumpuk sebelumnya akibat:

  1. Transisi personel
  2. Periode kekosongan jabatan
  3. Proses administrasi yang tertunda

Dalam kasus ini, prioritas utama adalah mengurangi backlog secara bertahap melalui:

  1. Identifikasi volume backlog aktual
  2. Penetapan prioritas berdasarkan urgensi dan dependencies
  3. Eksekusi harian dengan target realistis
  4. Monitoring harian terhadap progress reduksi backlog

Pendekatan yang konsisten mampu menurunkan backlog hingga mencapai kondisi stabil dan terkendali.


4. Backlog dalam Produktivitas Pribadi

Konsep backlog juga dapat diterapkan pada pengelolaan pekerjaan atau output pribadi, misalnya:

  1. Daftar tulisan yang belum ditulis

  2. Rencana yang belum dieksekusi

  3. Target harian yang tertunda

Secara prinsip, backlog personal menggambarkan akumulasi tugas yang belum terealisasi, sama seperti dalam proyek.

Manajemen backlog pribadi dapat menggunakan pendekatan yang sama:

  1. Menentukan baseline (berapa backlog yang ada)

  2. Menetapkan target penyelesaian per hari

  3. Mengukur pengurangan backlog secara konsisten

  4. Menyeimbangkan antara pekerjaan baru dan penyelesaian backlog lama


5. Inti Pembelajaran

Mengelola backlog, baik dalam proyek maupun aktivitas personal, memiliki tujuan yang sama:
mencapai ritme kerja yang stabil, terkendali, dan produktif.

  1. Zero backlog di proyek = dokumen diproses tepat waktu sesuai standar.

  2. Backlog personal = indikator bahwa masih ada ruang pertumbuhan, ide, dan pembelajaran yang menunggu realisasi.

Selama backlog terus berkurang dan manajemen dilakukan secara sistematis, kondisi backlog bukan masalah — tetapi bagian dari proses peningkatan kinerja.

Silakan kunjungi versi lebih ringan di:  https://shorturl.at/8vAPB

#ProjectLifeCycle #EngineeringProjects #SiteOperations #WorkEfficiency #DailyImprovement
#WorkCulture #KnowledgeSharing


Monday, September 08, 2025

📍Rahasia Peta Lokasi Yang Disembunyikan Selama Ini

Fear of Sharing, Fear of Losing

https://www.ilmuhrd.com/2025/08/dia-sudah-pindah-tapi-masih-membawa.html


Hari ini, ruang les kami sudah penuh sesak. Kursi ditambah, kelas diperluas, bahkan pendingin udara di-upgrade agar suasana belajar tetap nyaman

Alasannya beragam: ada yang ikut karena circle pertemanan, ada yang sekadar butuh suasana baru, dan ada juga yang serius menambah pemahaman pelajaran.

Tapi ada satu cerita yang bikin saya berhenti sejenak dan berpikir lama—tentang Dodo dan Bensu.

Dua tahun lalu, Bensu sudah ingin ikut les. Ia kagum melihat perkembangan pesat Dodo di kelas mereka.

Berkali-kali ia meminta alamat les ini, dan Dodo selalu berjanji akan memberitahu.

Namun, janji itu tak pernah ditepati.
Sampai akhirnya hari ini, Bensu memaksa. Ia mengikuti Dodo diam-diam, menemukan lokasi les, lalu menanyakan alasannya.

https://www.ilmuhrd.com/2025/08/dia-sudah-pindah-tapi-masih-membawa.html

Dan jawaban yang keluar sungguh mengejutkan:
“Aku takut kamu jadi pesaing terberatku di sekolah.”

Bukan malas berbagi, tapi takut tersaingi.

✨ Pelajaran untuk dunia kerja
Fenomena ini nyata di banyak kantor.
Ada karyawan yang enggan berbagi ilmu, menutup akses, atau menahan informasi—bukan karena mereka tak mampu, tapi karena takut posisinya tergeser oleh orang baru.

Padahal, dunia kerja bukan zero-sum game.
Ketika kita membantu orang lain berkembang, kita sebenarnya juga sedang membangun reputasi, kredibilitas, dan kepercayaan yang jauh lebih bernilai.

🔑 Kunci pertumbuhan bukan dengan membatasi orang lain… tapi dengan memperluas kapasitas diri kita sendiri.

👉 Jadi, jangan jadi “Dodo” di kantor.
Karena sejatinya, semakin banyak yang tumbuh bersama kita, semakin kuat pula posisi kita.

"CelahRakata Journey"

Entri yang Diunggulkan

Omnibus Law Ketenagakerjaan dan Urgensinya

Bogor, 31-01-2020. Sudah lebih sekitar tiga bulan terakhir ini, kita sering kali mendengar istilah "Omnibus Law" bahkan hingga sa...